Musim Semi Bulan November
aku membayangkan bulan November tiba
dan kau pulang membawa musim semi di matamu
tanpa sake
karena kau lebih suka mabuk
dengan hujan yang begitu membutamu benci
atau bulgari aroma terbaru
yang kerap mengajakmu bercinta tiba-tiba
halaman rumah telah melarikan pohonan pinus
tinggal guguran biji
tak juga tumbuh
seperti bayanganmu tentang kanak-kanak
yang terbunuh tanpa sempat dilahirkan
juga kekasih yang urung mengeluh
kau hujani kecup-kecup penuh debar
lalu sama-sama melupakan kecemasan masa tua
aku membayangkan November tiba
musim semi bulan ini membadai sudah
kupu-kupu bersayap pelangi
menyimpan taman bunga di lipatan kepaknya
taruhlah vas kecil di halaman
ketika nanti matamu ditumbuhi luka
setidaknya musim semi masih tersisa:
di sebuah vas bunga nan kecil
Merry dan Kelamin Baru
Merry terkepung malam di lampu merah
saat usia mengumpulkan kecemasan
aspal jalan raya serupa lantai dansa
membetoti bibir-bibir lelaki dan janggut kasar
untuk menghisap ngilu
pada silikon yang mengelupasi tubuhnya
kecuali untuk Tuhan yang terburu-buru atas tubuhnya
Merry mencari dan memilih kelamin-kelamin rebah
di etalase pertokoan
meninggalkan kartu kredit
dan orang-orang menagih tubuhnya dengan basah
lewat hujan yang mengerangkan dusta
Kehilangan Purnama
aku kehilangan purnama
selepas tarawih di surau depan rumah
di mana para santri memenuhi separuh kesadarannya
dengan neraka
atau Tuhan yang tiba-tiba hadir
ketika leher tercekat ketakutan
barangkali aku lupa menumbukkan pendarnya
pada skala peta, sebab mabukku masih sibuk berkelit dengan tarian huruf
yang terucap sebagai bau mulut
selagi aku sesat pada gerak sederhana yang dibikin ritmis
tapi terbaca rumit
purnama yang tak datang tiap malam
mengajari tentang geletar yang diciptakan jarak
dan aku mencari-cari
malam-malam bermesraan dengan jantungnya
melupakan apapun bernama cahaya
sebab,
aku tak ingin menyetubuhi purnama tanpa rindu-rindu
Berhitung Dalam Musim dan kemarau
kau menggerutu,
malam perkawinan lebih cepat basi
ketimbang roti apit isi daging
yang dihidangkan pelayan restoran
dengan dagu dan hak sepatu yang sama-sama tinggi
kekentalan dan aroma secangkir kopi restoran
mengenalkan kita pada sebuah rumah sehabis kelokan depan gereja
tapi berjalan kaki membikin kita lelah
dan tak ada ongkos lagi buat membayar taksi
kau menyusu padaku dan membiarkan aku menjilati keringatmu
karena dadamu cuma kantung asin
untuk kau perah di ranjang dan dibilas kran kamar mandi
malam-malam seterusnya, bulan sisa separuh saja
mencacah bintang yang dilipat kerumunan
mengirimkan gerimis cahaya
yang rintiknya menumbuk dinding kamar tidur
kau ingin lebih banyak menyerapnya
dengan membuka jendela
tapi angin lebih dulu membebat tengkukku
beku, seperti sunyi yang ku kecap di lidah
lalu kuludahkan pada bibirmu
di luar sana
anjing menyalak ribut
membangunkan penjaga kastil tua
tempat sang putri menyulam gaun pengantin bergambar laron
yang sedang menertawakan pertengkaran kemarau dengan musimnya
