Friday, 7 August 2009

Musim Semi Bulan November


aku membayangkan bulan November tiba

dan kau pulang membawa musim semi di matamu

tanpa sake

karena kau lebih suka mabuk

dengan hujan yang begitu membutamu benci

atau bulgari aroma terbaru

yang kerap mengajakmu bercinta tiba-tiba


halaman rumah telah melarikan pohonan pinus

tinggal guguran biji

tak juga tumbuh

seperti bayanganmu tentang kanak-kanak

yang terbunuh tanpa sempat dilahirkan

juga kekasih yang urung mengeluh

kau hujani kecup-kecup penuh debar

lalu sama-sama melupakan kecemasan masa tua


aku membayangkan November tiba


musim semi bulan ini membadai sudah

kupu-kupu bersayap pelangi

menyimpan taman bunga di lipatan kepaknya

taruhlah vas kecil di halaman

ketika nanti matamu ditumbuhi luka

setidaknya musim semi masih tersisa:

di sebuah vas bunga nan kecil



Merry dan Kelamin Baru

Merry terkepung malam di lampu merah

saat usia mengumpulkan kecemasan

aspal jalan raya serupa lantai dansa

membetoti bibir-bibir lelaki dan janggut kasar

untuk menghisap ngilu

pada silikon yang mengelupasi tubuhnya


kecuali untuk Tuhan yang terburu-buru atas tubuhnya

Merry mencari dan memilih kelamin-kelamin rebah

di etalase pertokoan

meninggalkan kartu kredit

dan orang-orang menagih tubuhnya dengan basah

lewat hujan yang mengerangkan dusta


Kehilangan Purnama


aku kehilangan purnama

selepas tarawih di surau depan rumah

di mana para santri memenuhi separuh kesadarannya

dengan neraka

atau Tuhan yang tiba-tiba hadir

ketika leher tercekat ketakutan


barangkali aku lupa menumbukkan pendarnya

pada skala peta, sebab mabukku masih sibuk berkelit dengan tarian huruf

yang terucap sebagai bau mulut

selagi aku sesat pada gerak sederhana yang dibikin ritmis

tapi terbaca rumit


purnama yang tak datang tiap malam

mengajari tentang geletar yang diciptakan jarak

dan aku mencari-cari

malam-malam bermesraan dengan jantungnya

melupakan apapun bernama cahaya

sebab,

aku tak ingin menyetubuhi purnama tanpa rindu-rindu


Berhitung Dalam Musim dan kemarau


kau menggerutu,

malam perkawinan lebih cepat basi

ketimbang roti apit isi daging

yang dihidangkan pelayan restoran

dengan dagu dan hak sepatu yang sama-sama tinggi


kekentalan dan aroma secangkir kopi restoran

mengenalkan kita pada sebuah rumah sehabis kelokan depan gereja

tapi berjalan kaki membikin kita lelah

dan tak ada ongkos lagi buat membayar taksi

kau menyusu padaku dan membiarkan aku menjilati keringatmu

karena dadamu cuma kantung asin

untuk kau perah di ranjang dan dibilas kran kamar mandi


malam-malam seterusnya, bulan sisa separuh saja

mencacah bintang yang dilipat kerumunan

mengirimkan gerimis cahaya

yang rintiknya menumbuk dinding kamar tidur

kau ingin lebih banyak menyerapnya

dengan membuka jendela

tapi angin lebih dulu membebat tengkukku

beku, seperti sunyi yang ku kecap di lidah

lalu kuludahkan pada bibirmu


di luar sana

anjing menyalak ribut

membangunkan penjaga kastil tua

tempat sang putri menyulam gaun pengantin bergambar laron

yang sedang menertawakan pertengkaran kemarau dengan musimnya

pernah tiba-tiba merasa kangen dengan seseorang yang tidak begitu kau kenal?

bahkan bisa jadi kusebut dia sebagai orang asing.
orang asing yang telah lancang memasuki bagian yang privat dari diriku. rasa kangen yang sedianya hanya untuk orang-orang terdekatku, orang-orang yang sudah lekat benar dengan kehidupanku. ibaratnya seperti... em... orang tidak dikenal yang tiba-tiba nyelonong memasuki rumahmu, lalu menggunakan kamar mandi tanpa permisi. menyebalkan sekaligus membuat bingung.

“Ma’af mbak, semua farian cokelat habis.” Aku cuma ingin tambah minuman, tampaknya mbak-mbak yang satu ini mampu menerjemahkan lebih atas tatapan lekatku pada menu yg dia sodorkan.

“susu kocoknya juga enak kok mbak, ada rasa stowberry, vanilla, pisang, cokelat,” si mbak memberikan alternatif.

“em… iya.”

“iya yang mana mbak?”

“susu kocok stowberry.”

Aku tak terbiasa cerewet memilih makanan atau minuman, cenderung bingung malahan dihadapkan dengan banyak pilihan. Dalam hal ini, ibu adalah tersangka utama.

“gak usah cerewet, gak bisa masak kok cerewet.” Kata-kata yang selalu terlontar dari bibir ibu ketika aku mengeluh di meja makan. Kala itu yang terasa cuma: tidak bisa masak adalah kutukan. Tapi semakin ke sini, aku menerjemahkannya sebagai hal yang amat besar. Sengaja atau tidak, ibu telah mengajari aku tentang sebuah konsekuensi. Bagiku, cara yang dipilihnya teramat seksi.

Susu kocok rasa srtowberry tandas, meski sebenarnya aku agak bergidik dan rasa pening menyergap di pertemuan dua alis mataku. Sepertinya lidahku mesti dijinakkan dengan secangkir kopi kental. Tapi aku mesti bergegas, JEC, pameran buku menanti. Lagipula seorang kawan akan membaca puisi di sana.

Thursday, 6 August 2009

poetri

Putri,

aku mencoba memahami betapa kau membenci sosok bernama ibu itu, perempuan yang telah melarikan masa kecilmu pada sebuah sore yang hujan. Bahkan, rasanya kau telah menularkan kebencian itu padaku lewat malam-malam penuh batuk dan air mata yang tak mampu kau kemas sendirian.

Sekerat roti apit isi mentega masih sisa separuh ketika ia pamit, hendak memasak di rumah seorang perempuan lainnya. Kau tak pernah mengerti Putri dan tak pernah ingin mengerti, apapun alasannya! Semua kata menguap dan terucap sebagai bau mulut di telingamu.

Hari-hari adalah dendam yang terus kau kumpulkan, terkadang aku menaruh curiga bahwa kau pun membenci keperempuanan dalam dirimu. Sesekali kau habis kesabaran dan membunuh anak-anak yang tak sempat kau lahirkan.

Sunday, 15 March 2009

.....

malam sudah sekarat, mungkin sebentar lagi suamiku akan bangun. Dan aku, yang seorang istri ini, masih nanar di jalan. Menyesal karena mesti meninggalkan kesenanganku menikmati secagelas besar moca late sambil mengikuti perjalanan malam di pojokan cafe pinggiran kota.
ya, aku tak pernah suka pulang. Karena pulang berarti menuju rumah. Menjumpai lelakiku yang telah menghabiskan cintaku sampai tak tersisa apapun.
Tak ada yang salah, semua berjalan apa adanya dan sebagaimana mestinya.
Jangankan untuk selingkuh, bahkan melirik perempuan lainpun lelakiku mengharamkan matanya. Dia baik, teramat naik bahkan. Menelfon tiap kali untuk menanyakan apakah aku sudah makan siang atau sekedar menanyakan apa yang sedang kulakukan. Perhatian dan menyenangkan bukan?


Tapi aku bukan perempuan kebanyakan. Aku berharap hidup berjalan tak semudah itu. Mungkin sesekali aku harus memergoki suamiku sedang mencumbu seorang rekan kerjanya di hotel. Atau sesekali suamiku mengajakku bertengkar karena hal-hal sepele.
Ya mungkin semua orang akan berpikir bahwa aku sudah gila. Tapi siapa yang lebih gila? aku merasa sangat waras karena muak dengan hidup yang berjalan biasa dan rutinitas yang begitu-begitu saja. Bukankah hidup harus diperjuangkan. Lalu apa aku harus berjuang cuma untuk mengatasi hal biasa ini. Betapa menyedihkan

Hm...pagar tidak terkunci seperti biasa. Dan aku akan segera menyusup ketempat tidur, lalu sebentar kemudian belaian hangat lelakiku akan mampir dibelahan rambutku.
Ah, lelakiku yang tak kumengerti. Bukankah seharusnya kita bertengkar di pagi hari, hinga pembantu bergidik dikamarnya. Tapi kau tetap saja demikian diam dan menunjukkan kasih sayangmu. Uh, aku muak sayang!

Thursday, 18 December 2008

PENGELUH

Desember pelan-pelan merangkak menuju penghabisan. Sementara penghujan bertengkar dengan musimnya, aku sibuk menambal dinding kamar tidur yang masih saja dibebat hawa dingin. Lubang teramat banyak, membuatku terpaksa mendengarkan percakapan-percakapan lusuh dari luaran sana. Ngeri, sumpah. Manusia memang makhluk pengeluh.

Sepuluh manusia berkumpul lalu menghabiskan malam dalam percakapan dan minuman. Sembilan diantaranya akan berbincang tentang kepincangan hidup masing-masing, dan satu orang yang merasa hidupnya paling waras adalah orang yang paling mabuk diantara mereka. Hitung dan bandingkan saja, jumlah antara manusia sombong dan manusia pengeluh. Aku berani bertaruh, seribu kali lebih banyak pengeluh busuk itu. Tentu saja, karena orang sombong butuh sesuatu untuk menghidupi kesombongannya. Sedang mengeluh hanya butuh ludah dan bau mulut dan tentu saja gerombolan pengeluh yang jumlahnya lebih banyak itu akan mencaci dan mengharamkan perilaku manusia sombong itu. Alasannya sederhana saja, para pengeluh tidak mampu sombong dan merasa iri. Tapi coba tilik retorika yang mereka jadikan senjata penumpas manusia sombong. Oooh… mengerikan. Sampai agama pun dibawa-bawa.

Tampaknya aku memang harus bergegas menambal lubang di kamar tidurku. Atau telingaku akan menjadi pekak, otakku lumer, cair bersamaan dengan hidupku yang leleh. Sebab, mulut para pengeluh itu bias menjelma racun teramat hebat. Jika sudah masuk ke dalam hati, ia akan merusak seluruh organmu dan mengeluarkan semangat lewat pori-pori tubuhmu.

Tapi tampaknya lubang dinding ini makin lebar saja, makin sulit menambalnya. Apalagi kain-kain lusuh habis sudah sebagai sumpal. Tinggal kain lekat di badan ini. Aku harus memutar otak. Ayolah otakku, bekerjalah dengan keras jangan sampai lebih dulu teracuni bau mulut para pengeluh.

Ah ya… otakku mengajariku berbuat sedikit sexy. Malam nanti aku akan merobek mulut mereka. Tidak dengan pisau tapi pecahan beling bekas minum mereka. Biar irisan di mulut lebih terasa perih dan aku mendengar bunyi koyakan daging dari mulut-mulut pengeluh itu. Suara yang jelas lebih merdu kedengarannya. Tapi terlebih dulu aku akan membuat mereka benar-benar mabuk dengan keluhan mereka.

Tuesday, 6 May 2008

Q

malam-malam kita adalah deringan telpon tanpa henti. ribuan rindu yang diperam untuk ditiupkan pada hari sabtu dan minggu. kau memilih hari minggu itu untuk mengunjungi kebun binatang. kita menatapnya selalu dengan bingkai kekaguman. flamingo yang malu menyaksikan ciuman terburu-buru dari mu, adalah bagian terbaik dari kebun binatang. monyet bule yang tampan, bulu keriting rusa kutub di amukan panasnya udara surabaya. uuuuuuuh.. .kita sering menertawakannya.

dan minggu ini, lagi-lagi kita akan ke kebun binatang di kota yang mempertemukan kita. tidak ada flamingo atau rusa kutub berbulu keriting tapi kura-kura berumur ratusan tahun, bahkan kalau melihatnya kau akan sulit membedakan itu patung atau makhluk bernyawa. yah... kita akan menunggu hari minggu untuk menengok kebun binatang-kebun binatang yang lain. :)